Kamis, 10 Oktober 2013

Penyebab sulit punya anak (infertil)


Ada bermacam faktor yang menyebabkan perjalanan untuk memiliki
 bayimenjadi cukup sulit. Berikut daftar 6 penyebab umum yang mungkin jadi alasan di balik masalah kesuburan Anda:

·        Usia, meski tidak berpengaruh besar, faktanya di usia 35 fungsi organ reproduksi seperti indung telur dan rahim kurang optimal. Kesempatan untuk hamil tinggal 15% karena jarak antar masa ovulasi menjauh dan masa ovulasi semakin tidak teratur.

·        Uterine fibroid, tumor jinak yang tumbuh di dalam rahim yang tumbuh dengan cepat ketika tingginya kadar estrogen. Kasus fibroid biasanya ditemukan pada wanita usia sekitar 30an ke atas dan cenderung menurun ketika wanita mengalami manapouse, di mana kadar estrogennya juga berkurang. 

·        Adanya miom atau jaringan parut yang menyebabkan penyumbatan di saluran tuba. Masalah kesuburan ini dapat diperbaiki dengan operasi atau terapi. 
·        Kista ovarium, tumbuh kantung berisi cairan pada ovarium yang mencegah telur  berkembang. Bisa hilang dengan sendirinya. Bila jumlahnya cukup banyak, mungkin dlakukan operasi laporoskopi. 

·        Sindrom ovarium polikistik (PCOS). PCOS ditandai dengan menstruasi yang tidak teratur, rambut wajah berlebihan, jerawat, dan obesitas. Bisa dicegah dengan olahraga teratur, penurunan berat badan, dan pengobatan.

·        Gangguan haid, diatasi dengan memerbaiki siklus haid menggunakan metformin, pil kontrasepsi kombinasi atau preparat progestin. Ini penting untuk mencegah penebalan lapisan dinding di dalam rahim.

Alamat Klinik:
Permata Mansion
Blok EE 3 No. 5 Sawangan - Depok
081298215588(SMS)
Follow us twitter @BidanGemilang


Yang Harus Dilakukan saat Ketuban Pecah

Pecah ketuban bisa terjadi kapan dan dimana saja. Hal ini juga biasanya menandakan waktunya kelahiran. Lalu, apa yang harus dilakukan selanjutnya?

Ketika ketuban Anda pecah alami:

1.   Catat waktu ketuban Anda pecah. Ketuban pecah bukan berarti Anda langsung melahirkan, sekitar 80% persalinan baru terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah.

2.   Perhatikan jumlahnya, apakah langsung mengalir atau hanya rembesan saja. Aliran ketuban biasanya diawali dengan Anda merasakan “ledakan” internal lalu cairan mengalir. Cairan akan lebih banyak keluar terutama saat kontraksi. Sementara rembesan ketuban seperti Anda mengompol atau cairan keluar saat Anda batuk. Berbeda dengan cairan vagina yang membuat celana dalam lembab, rembesan air ketuban akan membuat celana basah.

3.   Perhatikan warna cairannya, apakah berwarna bening, berdarah atau kehijauan. Warna ketuban kehijauan menandakan bayi stress, perlu segera dievaluasi.

4.   Segera ke rumah sakit. Beritahukan pada dokter mengenai kondisi ketuban (waktu pecah, jumlah dan warna). Informasi dari Anda akan menentukan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya, apakah sudah mendekati waktunya Anda melahirkan atau belum.

Hindari. Jika ketuban pecah, hindari melakukan aktivitas berikut ini:
·        Memasukkan sesuatu ke dalam vagina, seperti tampon atau berhubungan seksual. Ketuban yang sudah pecah atau bocor tidak lagi dapat menahan kuman.

·        Berendam dalam air bersabun karena berisiko infeksi. Jika ingin mandi lebih baik menggunakan pancuran.

Alamat Klinik:
Permata Mansion
Blok EE 3 No. 5 Sawangan - Depok
081298215588(SMS)
Follow us twitter @BidanGemilang

Gumoh


Gumoh berbeda dengan muntah. Muntah adalah keluarnya isi perut karena gejala suatu penyakit. Sedangkan gumoh merupakan tanda lambung belum siap sempurna fungsinya, lambung terlalu penuh, bisa juga susu belum masuk ke dalam lambung, tetapi bayi sudah diletakkan dalam posisi telentang hingga isi perut keluar lagi. gumoh akan berkurang ketika bayi bisa berdiri atau duduk (sekitar usia 9 bulan)

Hampir setiap bayi mengalami gumoh, jadi Bunda tidak perlu khawatir berlebihan. Untuk menguranginya pastikan Bunda menyusui dengan cara yang benar dan jangan baringkan bayi setelah menyusui. Sendawakan bayi terlebih dahulu sebelum membaringkannya. Bunda juga bisa menggendongnya dengan posisi kepala yang lebih tinggi daripada badan.

Waspada jika gumoh keluar melalui hidung, terutama untuk bayi di bawah usia 6 bulan. Cairan gumoh dapat terhisap ke jalan napas (paru-paru) hingga menyebabkan gangguan pernapasan akut. Untuk mengatasinya hisaplah cairan keluar lewat hidung atau gunakan penghisap untuk bayi. Setelahnya bersihkan hidung bayi menggunakan cotton bud yang basah.

Alamat Klinik:
Permata Mansion
Blok EE 3 No. 5 Sawangan - Depok
081298215588(SMS)
Follow us twitter @BidanGemilang


Bagaimana Cara Menyusui yang Benar ??


Bunda mungkin masih perlu berlatih pada saat baru mulai menyusu. Tetapi lama kelamaan keterampilan menyusui akan dapat Bunda kuasai jika terus berlatih. Demikian pula dengan bayi Bunda. Berikut ini cara menyusui yang benar.

  • ·        Bersihkan kedua tangan dengan menggunakan sabun atau cairan antiseptic sebelum menyusui.

  • ·        Tekan puting dan keluarkan sedikit ASI kemudian oleskan pada areola (bagian sekitar putting yang berwarna gelap) untuk melembapkan dan membersihkan payudara.

  • ·        Duduk atau tidurlah dalam posisi yang nyaman

  •       Tekuklah sebelah tangan letakkan kepala bayi pas di lengkung siku Bunda. Tahanlah bokong bayi dengan telapak tangan dan satu tangan lainnya.

  • ·        Letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam.
  •       Arahkan tubuh bayi ke Badan Bunda dan angkatlah payudara setinggi mulut bayi dan dekatkan putting pada mulut bayi.

  • ·        Gendong bayi dengan nyaman, tempelkan tubuh bayi ke tubuh Bunda.

  • ·        Usahakan bayi menyusu dari kedua payudara Bunda.

  •      Pastikan ketika menyusu, mulut bayi menutupi areola. Hal ini akan membantu menekan saluran air susu sehingga mempercepat pengeluaran ASI

  • ·        Bayi akan menentukan sendiri lama waktu ia akan menyusu. Setelah bayi cukup menyusu, lepaskan mulut bayi dari payudara Bunda dengan cara menekan payudara dari sudut mulut bayi dengan ibu jari secara perlahan hingga payudara terlepas dari mulut bayi.



Rencanakan Dana Pendidikan Anak

Agar pendidikan dan kehidupan anak kelak selalu terjamin, rencanakan dahulu keuangan dari jauh-jauh hari, salah satunya melalui investasi. Ketahui dahulu perkiraan dana yang dibutuhkan sebelum menentukan pilihan investasi.

Ketika anak pertama, Laura, lahir, Amel dan Rafli memutuskan  menyisihkan penghasilan mereka untuk dana pendidikan, mengingat biaya pendidikan terus meningkat. Amel dan Rafli menimbang-nimbang manakah yang terbaik dan manakah yang cocok dengan rencana pendidikan anak mereka. Begitu banyak pilihan. Antara lain asuransi, tabungan pendidikan, tabungan deposito, reksadana,  properti, dan lain sebagainya.

Menurut financial planner, Ligwina Poerwo-Hananto, sebelum menentukan jenis investasi pendidikan, sebaiknya orang tua mengetahui lebih dahulu berapa perkiraan dana yang dibutuhkan. Tak sedikit orang membeli produk tanpa memikirkan manfaat dari tujuan tersebut. Bahkan orang tua cenderung membeli produk karena ditempeli “pendidikan” di belakangnya.

Selain itu, menurut Ligwina, asumsikan biaya pendidikan per jenjangnya. Jenjang pendidikan TK hingga SMA asumsikan mengalami inflasi 20% per tahun sedangkan S1, 15%.

‘’Anak adalah tanggung jawab kita. Jadi harus betul-betul berhitung berapa kebutuhannya di masa depan dengan memilih apakah produk ini sesuai dengan kebutuhannya atau tidak,” paparnya. Ligwina menyarankan sebaiknya orang tua menyiapkan dana pendidikan sejak semasa hamil. Bahkan, pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak juga perlu menyiapkan dana pendidikan karena usia bertambah, sementara belum tahu kapan akan hamil. Jika hamil di usia  lanjut,  jangka waktu usia produktif semakin pendek sementara anak masih kecil.

Perbedaan Tabungan Pendidikan Dengan Asuransi

Banyak yang masih bingung antara memilih asuransi atau tabungan sebagai investasi dana pendidikan. Apakah Anda juga? Cek bedanya di sini.

Tabungan pendidikan:
  • Terdapat asuransi, namun yang dijamin hanya sebesar target dana yang akan diperoleh diakhir. Jika nasabah meninggal, maka ahli waris akan mendapatkan dana sebesar nominal yang menjadi tujuan nasabah di awal.
  • Biaya asuransi ditanggung oleh pihak bank.
  • Cocok dipakai untuk mempersiapkan dana pendidikan dalam jangka waktu pendek antara dua hingga lima tahun, karena hasil yang diberikan hanya sekitar 3% hingga 6% sebelum dipotong pajak.
  • Tidak terdapat bunga yang besar, biasanya hanya dikenakan biaya administrasi.
Asuransi pendidikan:
  • Jika yang tertanggung meninggal maka si ahli waris akan mendapatkan dana sebesar uang pertanggungannya ditambah hasil investasinya.
  • Dapat memberikan hasil yang lebih besar daripada tabungan pendidikan, karena ditempatkan pada reksadana. Dalam jangka waktu yang pendek, tabungan akan memberikan jaminan hasil yang akan diperoleh sedangkan asuransi tidak.
  • Bunga sangat bergantung dengan kinerja investasi itu sendiri.
  • Ada biaya akuisisi –biaya yang dikenakan sehubungan dengan permohonan pertanggungan dan penerbitan polis yang meliputi biaya pemeriksaan kesehatan, pengadaan polis dan pencetakan dokumen, biaya lapangan, biaya pos dan telekomunikasi- yang cukup besar dan biasanya dipotong hingga tahun ke enam.
  • Ada biaya asuransi yang dibebankan kepada nasabah.

Seleksi Produk Investasi Pendidikan

Jangan asal pilih produk investasi pendidikan. Salah pilih atau tidak dipersiapkan dengan matang, akan ditukar dengan anak tidak dapat sekolah. Seleksi dulu jenis produk investasi pendidikan yang akan Anda pilih.

Langkah pertama, tetapkan jenjang pendidikan yang akan dipilih, waktu dan jumlah dana yang diperlukan untuk mengumpulkan dana pendidikan anak. Dengan mengetahui jangka waktu yang dimiliki, Anda dapat menghitung berapa nominal yang harus disisihkan setiap bulannya. Misalnya, untuk biaya sekolah anak menuju SD, Anda memerlukan waktu tiga tahun lagi dan dana yang dibutuhkan sebesar Rp.10 juta.

Langkah kedua, tetapkan instrumen investasi. Contohnya tabungan, deposito, reksadana, saham atau emas.
  • Jika jangka waktu yang dimiliki pendek, antara 1-3 tahun, lebih baik pilih tabungan pendidikan atau reksadana pasar uang, yang resikonya sedikit.
  • Jika waktu yang dimiliki antara 4-8 tahun, tempatkan investasi Anda di reksadana pendapatan tetap atau campuran.
  • Jika waktu yang dimiliki di atas 8 tahun, tempatkan di dalam reksadana campuran atau saham, yang tingkat resikonya besar.
Langkah ketiga, lakukan monitoring setiap tahunnya. Pastikan dana yang Anda kumpulkan sudah sesuai dengan tujuan nominal yang ingin dicapai. Atau memutuskan untuk menambah atau mengurangi dana cicilan per bulannya, bila diperlukan.